Pesona alam dataran tinggi dieng memang begitu indah.. butuh sejuta kata untuk melukiskannya. Dan catatan ini adalah bagian terkecil dari keindahannya.

Tanggal 6 – 7 Agustus kemarin, saya beruntung bisa menyaksikan Dieng Culture Festival 2016 yang di selenggarakan di Dieng.  Meski sebetulnya acara gelar budaya ini sudah di mulai sejak tanggal 5 agustus 2016.

DCF2016

Dieng Culture Festival merupakan acara rutin tahunan, dan tahun 2016 ini merupakan tahun ke – 7 (tujuh) di gelarnya festival budaya ini. Tahun ini mengusung tema “The Soul of Culture“.

Festival budaya di dieng ini menyuguhkan kearifan budaya lokal yang dipadukan dengan gagasan sadar wisata sehingga menjadi gelaran budaya yang mampu menyuguhkan berbagai tontonan yang apik.

Dieng Culture Festival

Adanya perpaduan antara seni tradisi, budaya, dan musik modern membuat festival ini lebih berkelas.

Tiket presale Dieng Culture Festival tahun 2016 ini di jual dengan harga 250 ribu rupiah yang bisa di beli secara online di situs dieng.id, sedangkan untuk pembelian on the spot di lokasi tiket dikenakan biaya 350 ribu rupiah.

Selama 3 hari gelar budaya ini banyak sekali rangkain acaranya,  mulai dari penampilan Cak Nun & Kyai Kanjeng, Festival Film, Pertunjukan Seni, Scooter Fun Trekking, Jazz Atas Awan, Lampion, hingga Ruwat Rambut Gembel.

Senandung Jazz Atas Awan

Buat saya pribadi, gelaran Jazz Atas Awan & Lampion lah yang paling istimewa. Acara ini di selenggarakan malam hari di Panggung Kailasa dengan titik suhu hingga 2° celcius. Dieng bener-bener dingin banget malem itu..

Gelaran Jazz Atas Awan sendiri merupakan gelaran ke-4 yang diselenggarakan di Dieng Culture Festival. Dan untuk tahun ini di selenggarakan 2x, tanggal 5 dan 6 agustus 2016.

Sampai sekarang pun saya masih terngiang-ngiang bagaimana @duniamanji (Anji) solois ternama dari jakarta ini melantunkan lagu-lagu melo dengan apiknya.

Duniamanji

Ooh tuhan..  Ku cinta dia..  Ku sayang dia..  Rindu dia..  Inginkan dia..
Utuhkanlah... Rasa cinta di hatiku.. Hanya padanya.. Untuk dia..

Merinding..!!

Saat semua penonton dibawa dengan kompaknya untuk menyanyikan lagu “Dia“. Lagu yang seakan menggiring kita semua untuk ikut merasakan betapa bahagianya saat kita menemukan kembali cinta yang telah hilang.

Saat menulis artikel ini, tak luput lagu “Dia” mengiringi. Seakan saya masih berada di tengah-tengah penonton jazz atas awan. Masih bernyanyi dengan ribuan penonton lainnya.. Ooh..jarak memang selalu membuat rindu..

Mus Mujiono

Selain Duniamanji beberapa musisi jazz ikut memeriahkan gelaran Jazz Atas Awan 2016 ini. Salah satunya yang tak asing lagi di dunia musik Jazz Indonesia yaitu Mus Mujiono (Nono) atau yang biasa di juluki George Benson‘nya Indonesia.

Seribu Lampion

Pagelaran Jazz atas awan ini semakin terasa romantis, saat ribuan lampion terbang membawa sejuta harapan peserta Dieng Culture Festival. Langit dieng menjadi panorama yang sangat indah malam itu.

Lampion

Ada 15 ribu letusan kembang api, ada ribuan lampion membumbung tinggi. Mereka beradu melukis langit negeri para dewa ini dengan sinar-sinarnya yang mempesona.

Gemuruh petasan sempat mengganggu penampilan Mus Mujiono, alangkah eloknya jika petasan ini di gelar di akhir acara. Namun romantisme dieng tetaplah yang terbaik, rugi jika kalian belum kesini.

Seribu Lampion

Malam seribu lampion ini  merupakan malam yang tak terlupakan keindahannya. Gak sabar nunggu festival ini tahun depan.

Hari pertama yang indah, terima kasih dieng.. terima kasih untuk semua panitia Dieng Culture Felstival 2016 untuk suguhannya yang mempesona.

Catatan Hari ke 2 di Dieng Culture Felstival 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s