Jam di Smartphone saya menunjuk angka 00.49, namun riuh penonton masih saja ramai meski gelaran jazz atas awan sudah rampung. Lampion-lampion pun masih terus membubung, seakan tak rela jika malam yang indah ini akan segera berakhir.

Panta, teman berjalan saya berkata ” Ayo lekas ke Homestay, esok subuh kita naik ke Skoter !! “.

Saya kembali membuka smartphone, benar esok Agenda Dieng Culture Festival adalah Menyaksikan Sunrise di Bukit Skoter lalu di lanjut Kirab Budaya dan Jamasan Rambut Anak Gembel.

Bukit Skoter

Homestay kami terletak tidak jauh dari kawasan candi arjuna, tempat di gelarnya jazz atas awan dan seribu lampion. Dalam hitungan menit saya sudah sampai di homestay dengan berjalan kaki.

Hawa dingin semakin menusuk.. meski sudah di dalam homestay dan berbalut selimut tebal rangkap dua namun belum cukup melawan dinginnya malam di dataran tinggi dieng ini.

Mungkin suhu di dieng tidak lagi 2 derajat, mungkin sudah minus entah berapa derajat..

Saat kabut subuh masih membalut desa dieng kulon, saya bergegas menaiki jalan setapak menuju Bukit Skoter. Bukit ini terletak di sebelah utara kawasan candi arjuna, ketinggiannya kira-kira 2200 mdpl.

wp-1472020586256.jpeg

Bukit Skoter adalah lukisan Tuhan yang begitu menakjubkan.. Saat menjelang subuh, selimut kabut terlihat jelas menutupi Desa Dieng Kulon yang masih tertidur lelap. Gunung Sindoro di kejauhan menambah indahnya Lanskap dari bukit ini.

Bagi penggemar fotografi, bukit skoter adalah surga. Tempat dimana para pelukis cahaya ini bisa menangkap panorama-panorama indah dari sini.

Bukit Scooter

Tak hanya Gunung Sindoro, jika cuaca cerah dan tak berkabut, bentangan laut utara jawa bisa dilihat dengan mata telanjang.

Selain itu, dari atas bukit ini kamu juga bisa melihat indahnya  Gunung Pangonan, Gunung Pakuwaja, Gunung Prau, Gunung Bisma, Gunung Sipandu, Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, dan Candi Bima.

Selesai di bukit Skoter, lantas saya kembali ke homestay, sarapan lalu melihat arak-arakan budaya.

Kirab Budaya

Pagi di dieng jalanan sudah mulai rame dan udara di dieng pun masih tetap dingin. Di pinggiran jalan banyak penjual bubur, soto, mie ongklok, dan sate ayam yang berjejer, Dieng Culutere Festival membawa berkah dan rezeki tersendiri untuk para penjaja makanan itu.

Jalanan semakin sesak, saat rombongan kirab budaya mulai melintas di jalan utama dieng.

Gelar budaya dieng

Kirab budaya merupakan prosesi yang harus dilakukan sebelum mencukur anak berambut gembel. Arak-arakan budaya ini dimulai dari rumah tetua adat, lalu berkeliling kampung dan berakhir di candi arjuna.

Arjuna DCF2016

Iring-iringan budaya ini berlangsung hampir satu jam, diikuti oleh beberapa rombongan kesenian yang merepresentasikan budaya jawa yang Adiluhung . Musik dan tarian tradisional membuat acara ini semakin semarak.

Gelar Budaya Dieng Culture Festival

Jamasan Rambut Gembel

Tiba di komplek Candi Arjuna sudah sesak, ribuan wisatawan memenuhi pelataran candi arjuna tempat di gelarnya acara puncak yaitu pemotongan rambut gembel.

Prosesi Pemotongan Rambut Gembel di Dieng Culture Festival

Mungkin tahun depan saya harus datang lebih awal lagi, ketika sudah sesak begini, rasanya malas untuk merangsek ke depan. Menyaksikan dari jauh pun kurang memuaskan.

Tetapi buat saya, Dieng Culture Festival 2016 ini memberikan rasa dan pengalaman tersendiri yang mungkin tak kan terlupakan. Keindahan alamnya.. Hawa dinginnya.. Budayanya.. Pertunjukan Jazz & Lampionnya.. Sungguh Luar Biasa !!

Bagaimana dengan pengalaman kamu di DCF 2016?? Tulis di kolom komentar ya :}

 

Iklan

One thought on “Catatan Dieng Culture Festival 2016 #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s